Bedah Novel Rahasia Meede di Jogjakarta. Sabtu 2 Pebruari 2008 pukul 16.00, MP Book Point Jogjakarta
Tampilkan postingan dengan label Kabar Meede. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kabar Meede. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 29 Desember 2007

Sekelumit Cerita Dari Launching Rahasia Meede

Pertama sekali, aku ingin menyampaikan permohonan maaf kepada banyak peserta launching yang terpaksa mesti turun kembali dari lantai II Bakoel Koffie Cikini karena kapasitas ruangan tidak lagi bisa memberikan kenyamanan. Sekaligus penghargaan yang setinggi-tingginya kepada pembaca Rahasia Meede yang tidak mendapat ruang mengikuti acara diskusi yang kita lakukan pada Kamis, 27 Desember 2007. Kami sama sekali tidak memperkirakan bahwa jumlah peserta akan membludak sedemikian banyaknya dengan kapasitas ruangan yang mungkin hanya cukup menampung sekitar 100-an orang.


Maaf beriring syukur karena ternyata antusiasme peserta sangat tinggi untuk mengikuti acara ini. Inilah acara dimana tiap paradoks kita pertemukan. Potret masa lalu lewat potongan slide gambar dipadukan dengan sajian musik akustik dari generasi ABG masa kini. Demikian juga dengan pembicaranya. Bung Fadjroel Rachman yang dikenal anti tentara dipertemukan dengan Letjen (Purn) Agus Widjojo . Mas Donny Gahral yang punya pandangan lain tentang konsepsi sejarah dalam sastra beradu argumen dengan Pak Asvi Warman Adam. Sementara Indra Jaya Piliang yang memandang sinis terhadap keidealan sosok Kalek dan Batu dalam Rahasia Meede berhadapan dengan Tegus Usis yang optimis memandang nilai ideal yang diusung kedua tokoh tersebut. Hasilnya, sebuah diskusi yang sangat seru dengan suasana Ke-Indonesiaan yang sangat tinggi dimana sentimen personal lenyap untuk sesaat. Di tengah-tengah diskusi dan tanya jawab, aku mendapat kejutan dengan kedatangan Ibu Halida (puteri Bung Hatta) spontan aku mendaulat beliau untuk ikut berbicara di depan. Kejutan yang sangat mengesankan.


Aku mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada Dyan, Pheo dan Agnes dari Srikandi Minutes Service (SMS) yang telah merancang, menyiapkan serta mengorganize acara ini sejak dua minggu yang lalu. Sama besarnya terima kasihku untuk Uda Indra Jaya Piliang yang telah menjamin terlaksananya kegiatan ini. Terima kasih sebesar-besarnya juga untuk Aples dan Cipto untuk mobilitas kegiatan. Untuk Empi dan Winda yang telah membantu pada hari-H bersama dengan kaum anarchis dari batas selatan Jakarta; Fauzan, Mendra, Mizan (nama orang) dan Romi. Untuk seniman masa depan yang tidak lahir dari kontes dadakan yang telah mengiringi acara ini dengan alunan gitar, raungan biola dan dentang gendang; Jonas (Gitar/vokal), Monday (Biola), Heru (Biola) dan Edo (perkusi). Tentu saja yang tidak boleh dilupakan terima kasih untuk Bung Miftah yang sebenarnya menjadi salah satu otak dibalik semua kegilaan ini.


Untuk teman-teman pers yang telah hadir, aku tidak bisa menyebutkan satu persatu kecuali yang sempat kontak bicara dan visual denganku dari Jak-tv, Trans7, Global tv, Kompas, Media Indonesia, Seputar Indonesia..................dan tentu saja dari Tabloid Parle yang telah menyediakan edisi gratis untuk acara ini. Terima kasih.


Aku pikir kita semua baru saja memulai sesuatu pada malam pengakuan kedaulatan 27 Desember tetapi aku tidak tahu apa yang sebenarnya tengah kita mulai. Semoga masing kita telah menyiapkan jawaban sendiri. Untuk beberapa pihak dan tokoh yang tidak sempat aku sebutkan namanya, aku mengucapkan terima kasih dan mohon maaf untuk ketidaknyaman ruangan kemarin malam.

Kamis, 27 Desember 2007

launching meede

58 Tahun Kemenangan Diplomasi Indonesia

Launching Novel Rahasia Meede
Karya E.S. ITO


spice from Indonesia
rempah-rempah dari Nusantara

Kamis, 27 Desember 2007 pukul 19.00 WIB
Bakoel Koffie Cikini

Pembahas
Dr Asvi Warman Adam (Sejarawan LIPI)
Letjen (Purn) Agus Widjojo (Mantan Ketua LPTTN)
Indra Jaya Piliang (CSIS)
Fadjroel Rachman (Aktifis-sastrawan)
Dhonny Gahral Adian (Filusuf)

Moderator
Teguh Usis (Kupas Tuntas Trans7)


Informasi selengkapnya

Dyan : 021-8351931 / 08158712921
Pheo : 08128138182




Selasa, 11 Desember 2007

Ketika Pak Jaap Bertanya Tentang Sosok Guru Uban

”Apakah Guru Uban itu sosok Guru Sejarah SMA yang pernah mengajar anda?”

Pertanyaan dari Pak Jaap membuatku terpana. Begitu lama beliau menginterogasiku dengan pertanyaan seputar sosok Guru Uban di dalam Rahasia Meede. Aku ingat Pak Saptomo, guru sejarah di SMA Taruna Nusantara. Aku suka dengan cara beliau mengajar tetapi tidak bisa dikatakan identik dengan gaya Guru Uban. Ah, tetapi sejarah SMA dengan pak Saptomo terutama soal politik dunia memang menarik juga.

Aku bertemu dengan Pak Jaap Erkelens di wisma PGI Menteng petang Sabtu kemaren. Pertemuan itu berawal dari pesan pendek yang aku terima dari Ibu Halida Hatta sehari sebelumnya. Dengan bahasa sederhana dan santun ala Bung Hatta beliau bilang Pak Jaap dari Belanda ingin bertemu denganku. Pesan dari Ibu Halida tentu tidak aku sia-siakan. Pak Jaap dulunya lama di Indonesia, tepatnya di KITLV jadi tidak ada alasan untuk melewatkan diskusi Meede ala pak Jaap dengan topik utama Guru Uban ini.

”Saya ingin guru sejarah seperti Guru Uban, seorang guru yang bisa bercerita di depan kelas. Maka sejarah tidak akan jadi membosankan”, lanjut Pak Jaap.

Aku setuju dengan Pak Jaap, tetapi bisakah karakter itu kita temukan di tengah dramatisasi pendidikan dengan orientasi dunia kerja ini? Bisakah lagi anak-anak punya kesempatan untuk menyelam di dalam palung masa lalu sementara mulut guru tidak bisa memberikan cukup oksigen untuk bantu mereka? Aku skeptis sejarah bisa jadi sesuatu yang menarik. Kenyataannya, seperti kata Pak Jaap, di Belanda sejarah digemari secara masif oleh orang awam. Sebuah majalah sejarah di sana ungkap Pak Jaap, aku lupa namanya, bahkan punya pelanggan lebih dari 30 ribu orang. Dengan merenungkan masa lalu kita memang tidak mengubah apa-apa. Tetapi lebih celaka lagi bila kita tidak memikirkannya, kita tidak pernah sadar mengulangi kesalahan yang sama.

Kami terus berbicara di balik isapan pipa rokok Pak Jaap yang klasik. Aku coba menceritakan cerita ketika aku diundang oleh guru-guru sekolah alam untuk bercerita tentang sejarah. Aku bercerita, bocah-bocah itu girang tidak kepalang. Mereka bertanya, menjawab merenungkan Indonesia. Ini gairah tetapi terkadang memenjarakan.

Tadi pagi, aku merenungkan lagi tentang Guru Uban. Bila satu sisi dirinya aku ambil, maka tidak ada sosok yang lebih aku ingat selain Ibrahim Datuk Tan Malaka. Ia adalah seorang guru, pejuang dan avonturir. Ya, Tan Malaka, aku ingin mengatakannya pada Pak Jaap. Sayang, senin kemarin pak Jaap sudah kembali ke Belanda.

Senin, 03 Desember 2007

Meede di Cak Tarno; Bung Hatta Yang Jomblo dan Guru Uban Yang Misterius

Siang kemarin (Sabtu 1/12/2007), aku mengajak Mamat duduk melingkar dengan belasan orang lainnya di kedai buku Cak Tarno, gang Kober UI. Diskusi Rahasia Meede ini difasilitasi oleh Damhuri Muhammad. Kebetulan resensi sang cerpenis kita itu tentang Rahasia Meede Sabtu pagi baru saja dimuat di Harian Media Indonesia. Inilah diskusi kecil yang benar-benar mengasyikkan. Berdiskusi dengan orang-orang yang memiliki latar belakang intelektual yang kuat, seperti menambah energi baru untuk ide-ide yang lebih segar. Ah, jangan bayangkan ini diskusi yang serius. Tetapi ngawur juga bila dikatakan diskusi ini hanya ngomong ngalur ngidul. Ini sebuah diskusi yang mengasyikkan tentang Rahasia Meede.

Banyak sekali pertanyaan yang menjadi bahan diskusi kami siang kemarin yang ditemani secangkir kopi dan kepulan asap rokok. Beberapa yang menarik misalnya, tentang harta karun VOC. Tradisi kolonial Belanda, berbeda dengan Portugis, hampir tidak pernah melakukan penimbunan harta tetapi langsung membawa hasilnya ke Belanda. Bagaimana harta karun VOC ini bisa dijelaskan? Aku menjawabnya simpel saja, karena yang melakukan itu bukan VOC, tetapi Monsterverbond (organ Klendestin yang terbentuk pada pertengahan abad ke-17). Tujuan penimbunan sama sekali tidak terkait dengan gagasan kolonialisme tetapi untuk memperkuat posisi Monsterverbond dalam mendudukkan orang-orangnya dalam posisi penting di VOC hingga akhirnya Cornelis Janszoon Speelman duduk sebagai gubernur jenderal pada tahun 1682. Monsterverbond, sebagaimana aku jelaskan dalam Rahasia Meede, yang muncul pada masa gubernur jenderal Joan Maetsuyker, menyadari mulai turunnya nilai komoditas rempah-rempah karena nyaris semua akses ke timur telah terbuka untuk barat. Itu sebabnya mereka melirik emas, sebab nilai emas selalu naik sepanjang masa.

Diskusi diinterupsi oleh beberapa peserta yang belum membaca Rahasia Meede, pertanyaannya mudah, Makhluk apakah Meede itu? Ya, aku lupa menjelaskan ini. Meede adalah nama seorang perempuan, puteri dari Pieter Erberveld. Ayahnya itu adalah seorang Mardjikers, keturunan Indo Eropa yang tinggal di kawasan elit Jacatraweg. Pada akhir tahun 1721, pemerintahan gubernur jenderal Henricus Zwardecroon menuduh Erberveld merencakana pemberontakan pada akhir tahun. Erberveld akhirnya ditangkap. Tanpa pernah terbukti, Erberveld dihukum mati pada tanggal 22 April 1722, tubuhnya ditarik dengan empat ekor kuda di kawasan yang kita kenal dengan nam Gang Pecah Kulit di kawasan Kota. Konon, Meede lah yang membocorkan rencana ayahnya itu lewat kekasihnya seorang Kapten Belanda. Setelah ayahnya tewas, Meede pun menghilang. Membawa sebuah rahasia yang selama itu dicari-cari oleh pemerintahan Zwardecroon. Meede membawa rahasia emas yang ditimbun oleh Monsterverbond. Itu sebabnya novel ini diberi judul Rahasia Meede. (Lengkapnya baca Rahasia Meede aja ah!)

Berikutnya, kenapa aku memakai nama Indonesiaraya sebagai nama koran dalam cerita Rahasia Meede. Bukankah koran tersebut telah dibredel pada awal 1980-an, kenapa muncul di tahun 2000-an. Jawabnya, aku sengaja memakai Indoensiaraya untuk membedakannya dengan Indonesia Raya Mochtar Lubis yang telah dibreidel, maka aku tidak memakai spasi antara dua kata itu. Aku tidak ingin mengacaukan konteks waktu, tetapi aku sebenarnya hanya ingin memperkenalkan bentuk perlawanan masa lalu yang telah mati yaitu pers yang berani dan mencerdaskan, itulah Indonesia Raya-nya Mochtar Lubis. Aku tidak tahu generasi sekarang peduli atau tidak. Aku juga tidak peduli apa mereka peduli dengan apa yang coba aku angkat.

Apakah Rahasia Meede berusaha mendekonstruksi masa kini dengan masa lalu? Sulit bagiku untuk menjawab tidak. Aku mengangkat tema VOC, karena VOC adalah perusahaan multinasional pertama di dunia. Kekuasan dagangnya mulai dari Tanjung Harapan di Afrika hingga lepas pantai Deshima Jepang. Semuanya berpusat di Batavia. VOC mengeluarkan saham dan membagikan dividen dengan komisaris Heeren Zeventeen (Tuan-Tuan Yang Tujuh Belas). Bila kita bicara tentang cengkeraman perusahaan multinasional di Indonesia (apalagi dengan presiden kita yang gemar mengucapkan kata investasi) sebenarnya kita-lah korban pertama dari model usaha seperti itu. Raja-raja dari kerajaan lemah nusantara yang mudah dibujuk dengan uang oleh VOC adalah cerminan dari pejabat kita pada masa sekarang. Aku hanya ingin mengatakan, setelah 400 tahun, ternyata tabiat bangsa kita tidak berubah. Miskin gagasan tetapi gemar kemewahan sehingga mudah ditaklukkan.

Pertanyaan yang menggelitik, beberapa pembaca di kedai buku Cak Tarno melihat ada beberapa karakter, misalnya Ekonom di Rahasia Meede yang penggambarannya nyaris persis dengan karakter yang sama dengan ekonom kontemporer. Atau apakah CSA = CSIS atau peran politik Angkatan Darat yang sangat besar sehingga bisa mementahkan penyelidikan kepolisian, adakah itu memang direncanakan untuk sinisme pada tokoh atau lembaga tertentu? Kalau itu aku serahkan pada pembaca saja.

Ada juga yang menanyakan tentang kemisteriusan Guru Uban. Seorang guru sejarah yang nyentrik, muncul dengan tema-tema sejarah unik dalam pengajarannya di sebuah SMA di Bojong Gede. Misalnya tentang sejarah JP Coen dan sejarah ilmu akuntansi. Bagaimana ia mendapatkan tema-tema itu, atau bagaimana bisa pendalaman mater sejarahnya sejauh itu, apakah Guru Uban itu transformasi dari sosok penulis sendiri? Aku jawabnya ringan saja, pertama tentang JP Coen dan Akuntansi, ya memang dia seorang akuntan dulunya. Ia belajar di Venesia kota tempat berkembangnya akuntansi yang diperkenalkan Luca Pachioli. Disanalah ia belajar debet, kredet, jurnal dan ledger. Ketika tiba di nusantara, kelak ia mempraktikkan akuntansinya; uang ia letakkan pada debet, darah ia letakkan pada kredit dalam sebuah buku besar bernama nusantara (jawaban aku tidak selengkap ini kemarin, tetapi anda bisa temukan dalam Rahasia Meede semua jawabannya). Tetapi menurutku, akuntasi itu ilmu yang paling membosankan, seperti perawan tua! Darimana Guru Uban mendapatkan semua itu, aku serahkan pada intepretasi pembaca.

Pertanyaan yang tidak kalah serunya, bagaimana bisa aku menyandingkan ajaran Hatta dan Gandhi sebagai dasar Ideologi Kelompok Anarki Nusantara. Jawabannya tidak sulit, ada dalam Rahasia Meede. Ahimsa Gandhi adalah perjuangan politik tanpa kekerasan bagi Hatta. Satyagraha Gandhi dijalankan Hatta dengan politik non kooperasi.. Sedangkan swadeshi Gandhi, bagi Hatta adalah penguatan kemandirian ekonomi lewat koperasi. Dan Hartal, pemogokan. Cukup kuatlah bukti dengan penolakan Hatta terhadap tawaran Kapten Van Langen di Boven Digoel untuk menerima uang saku 40 sen dan tambahan ransum dengan syarat ia masuk golongan werkwillig. Golongan yang mau bekerjasama dengan pemerintah kolonial. Ia pilih masuk golongan naturalis, mendapatkan ransum seadanya. Tetapi ada sedikit perbedaannya, Bung Hatta jauh lebih berhasil dibanding Gandhi. Sang Mahatma gagal untuk mencegah perpecahan India dan Pakistan. Sementara Bung Hatta berhasil menjaga keutuhan republik lewat lobi penghapusan tujuh kata piagam Jakarta.

Sebenarnya masih banyak pertanyaan yang kami diskusikan. Bukan hanya pertanyaan tetapi diskusi menarik meneropong sejarah dengan cara “seenak jidat” kita tanpa kehilangan esensinya.

Pertanyaan terakhir dari seorang peserta diskusi; kita semua tahu konseptor dari proklamasi itu adalah Bung Hatta, tetapi kenapa Bung Karno yang membacakan proklamasi???

Jawabanku simpel saja, Jomblo kayak Bung Hatta belum boleh membacakan proklamasi!!! (sepi dari perempuan, Bung Hatta baru menikah setelah Indonesia Merdeka, sesuai janji beliau)

Jawaban lainnya yang rada kurang ajar dari penanya tadi, karena Bung Hatta kepalanya tidak sampai ke mikropon, makanya Bung Karno yang lebih tinggi yang membacakannya!!!

Ha...Ha...Ha... daripada ribut-ribut dalam kebodohan mendingan menertawakan sejarah dengan kecerdasan. Diskusi di Cak Tarno RUAAAAARRR BIASA MANTAPNYA!

Dari Padang Membengkokkan Peradaban

Dari Padang Membengkokkan Peradaban
Dalam perkenalan di warung kopi, setengah jam sebelum diskusi Rahasia Meede pada ajang Padang Bookfair 15 November 2007 kemarin, laki-laki itu menyebut usianya 72 tahun. Ia membawa Negara Kelima dan Rahasia Meede untuk segores tandatangan. Ah, bukankah, apa yang tengah ditampilkan Pak Rusli ini semacam Old Enthusiasm. Semangat yang terus menyala untuk menyikapi kegelisahan zaman. Lalu di dalam forum ia bersuara mengumpat zaman, menikam kekinian tetapi tidak hendak kembali ke masa lalu.

Tugas generasi sekarang memang bukan sekedar membenamkan diri pada masa lalu tetapi lebih dari itu, yaitu membengkokkan peradaban. Membuat peradaban bengkok artinya menjadikan waktu itu acak. Tiap kejadian pada masa sekarang tidak lebih dari reinkarnasi dari kejadian serupa dengan tokoh berbeda di masa silam. Masa lalu perlu ditampilkan lewat wajah masa kini, agar kejadian-kejadian masa sekarang mendapat jawaban dari peristiwa serupa di masa lalu.

Wajah masa depan sketsanya telah ada di masa lalu. Tugas penulis adalah menguatkan garis sketsa sehingga generasi masa depan bisa mewarnainya dengan cara yang lebih baik. Bukan dengan chaos sebagaimana tingkah polah generas