Bedah Novel Rahasia Meede di Jogjakarta. Sabtu 2 Pebruari 2008 pukul 16.00, MP Book Point Jogjakarta

Senin, 03 Desember 2007

Disiplin Hatta ala Deliar Noer

Tidak sulit untuk menemui Bapak Deliar Noer. Cukup bikin janji dengan sekretaris beliau sambil menjelaskan maksud tujuan lalu ikuti jadwal yang ditentukan Pak Deliar. Aku masih ingat, hari Senin itu, aku bikin janji dengan Pak Deliar pukul 2 siang. Dari Depok, tanpa direncakana terlebih dahulu, Miftah dan Romi anak Fisip UI juga ingin ikut menemui sang guru politik itu. Akhirnya kami berangkat bertiga dengan dua sepeda motor.


Takut terlambat, kami cepat berangkat selepas Zuhur menuju jalan Swadaya di daerah Duren Sawit. Aku mendengar cerita dari seorang kawan, bahwa dalam beberapa hal pak Deliar terobsesi dengan disiplin ala Bung Hatta. Terlambat satu menit bisa menjadi masalah besar nantinya disana. Syukur saja, kami tiba benar-benar tepat jam 2. Bahkan beberapa menit kami lewatkan untuk menunggu Pak Deliar keluar. Perkenalan pertama dengan Pak Deliar aku pikir akan berjalan lancar. Tentu saja lancar sebab aku tidak terlambat sama sekali. Tetapi ketika aku selesai menyalami beliau, tatap mata Pak Deliar terhenti pada dua sosok cecunguk yang aku bawa dari Depok. Sorot matanya kemudian tajam menatapku.


“Saudara bikin janji dengan saya, katanya mau datang sendiri. Nah, ini kok jadi bertiga? Saudara ini bagaimana ???”


Aku gelagapan. Berusaha menyampaikan semua alasan yang melintas dalam pikiran. Tetapi untunglah kami bertiga tetap dipersilahkan masuk ke dalam ruang tamunya yang lapang. Tampaknya Bapak Gaek yang satu ini tidak suka basa-basi ala adat ketimuran. Maka aku langsung menyampaikan maksud keinginan untuk melakukan wawancara seputar sosok Hatta yang ingin aku angkat dalam novel. Pak Deliar pun bercerita dengan lancar tentang pengalaman beliau dengan Bung Hatta plus (beberapa kali) kritik beliau pada Bung Karno yang suka kawin. Sedikit menyimpang, beliau bercerita bagaimana dulu di rumah yang asri ini banyak anak muda yang suka datang berdiskusi. Tiba-tiba dengan penuh percaya diri Miftah memotong.


“Wah saya dulu juga pernah kesini Pak. Dulu ikut dengan Etek yang aktif di PII”, ia berharap kata-kata itu akan mencairkan suasana.

“Saudara ini, memang bisanya cuma ikut-ikutan saja!!!”, balas Pak Deliar ketus.


Ha...Ha...Ha Miftah ternganga, aku dan Romi tidak bisa menahan tawa. Seketika cairlah suasana. Mengertilah kami bagaimana orang jaman dulu membangun joke dengan sinisme.


Ah, saat ini, aku masih belum bisa memenuhi janjiku pada Pak Deliar Noer untuk kembali berdiskusi di Duren Sawit.

1 komentar:

imam mengatakan...

sayang sekali yah, pak deliar noer sudah wafat.