Bedah Novel Rahasia Meede di Jogjakarta. Sabtu 2 Pebruari 2008 pukul 16.00, MP Book Point Jogjakarta

Senin, 03 Desember 2007

Hikayat Phinisi dari Daeng Laut

“Ah, phinisi…coba Bapak lihat itu kapal berwarna hijau buram. Bandingkan dengan kapal coklat di sebelahnya. Perahu yang pendek lambungnya itu punya orang Melayu, di sebelahnya dengan lambung tinggi dan tiang-tiang gagah phinisi Bugis”


Aku masih ingat percakapan pada suatu senja di pelabuhan Sunda Kelapa itu. Tetapi aku tidak tahu lagi bagaimana cara menemukan laki-laki tua itu. Padaku ia mengaku bernama Daeng Laut. Pada masa mudanya, ia ikut armada phinisi. Di sisa usia saat itu, ia mencari nafkah dengan perahu kecil membawa penumpang sewa dari Sunda Kelapa ke seberang (aku lupa nama tempatnya tetapi kalau tidak salah Muara Baru).


Ini bukan pertemuan yang direncanakan. Ketika aku dan Aples telah lelah mengambil foto kapal-kapal kayu yang bersandar di pelabuhan Sunda Kelapa, kami berbincang pada batas dermaga selagi ia menunggu penumpang. Daeng Laut bertutur banyak tentang phinisi. Penuh narsisme, laki-laki itu menceritakan keanggunan, kegagahperkasaan dan filosofi phinisi. Detail ia menjelaskan proses pembuatan sebuah phinisi, tentang kayu hingga bambu melingkar untuk merapatkan kayu.


Perbincangan itu seketika menambatkan phinisi di dasar otakku. Aku tidak ingin melepaskan kapal tradisional kebanggaan Bugis ini dari jalinan cerita yang tengah terangkai di dalam otakku. Phinisi bukan sekedar narsisme Bugis milik Daeng Laut dan sub etnisnya, tetapi adalah gairah Nusantara.


Pada batas beton dermaga kami berpisah, Daeng Laut membakar lagi sebatang rokok Sam Soe yang tadi padam akibat ia sibuk bercerita. Tumpangan telah datang. Dalam dunia orang pelabuhan, tidak ada nomor kontak yang ditinggalkan. Kelak hanya angin dan ombak yang mempertemukan. Terima kasih, Daeng!

Tidak ada komentar: